Kulit Baru untuk Penderita Luka Bakar


KOMPAS.com - Dalam prosedur penanganan pasien luka bakar, kulit mati akibat luka bakar harus dibuang agar tidak menjadi sarang kuman karena infeksinya bisa menyebar ke darah dan menyebabkan kematian. Prosedur pembuangan kulit mati (eksisi tangensial) ini dilakukan di kamar operasi.


Di luar negeri, setelah kulit mati dibuang langsung ditanam kulit sementara berupa kulit cadaver (mayat) atau kulit babi. Sementara itu, kulit penderita diambil sedikit untuk dibiakkan lewat teknik kultur jaringan (tissue culture).
Namun selain mahal, penanaman kulit sementara itu seringkali mendapat reaksi penolakan dari sistem imun tubuh. Efek samping lainnya adalah risiko infeksi karena kulit yang diambil mungkin mengandung penyakit.


Karena mahalnya biaya pembiakan kulit tersebut, di Indonesia, setelah kulit mati dibuang, luka ditutup dengan balutan konvensional, misalnya kasa. Balutan diganti setiap dua hari sampai tumbuh jaringan granulasi yang siap untuk ditanami kulit. Penambalan dilakukan dengan mengambil kulit dari bagian tubuh lain, biasanya dari paha atau punggung.


Perkembangan dalam teknologi sel punca (stem cells) ikut membawa harapan baru bagi pasien luka bakar. Memakai sifat sel punca sebagai pembentuk jaringan baru, para ilmuwan dari Perancis mengklaim telah menemukan cara untuk menciptakan kulit baru dengan menggunakan sel punca embrio manusia.


Dalam laporannya yang dimuat dalam jurnal Lancet, para ilmuwan itu mengatakan sel punca mampu menumbuhkan kulit baru dengan struktur yang lengkap dalam tempo 12 minggu. Percobaan yang dilakukan terhadap mencit membuktikan klaim tersebut.


Dr Christine Baldeschi dari Institute for Stem Cell Therapy and Exploration of Monogenic Disease, Perancis, yang memimpin riset ini mengatakan hasil penelitian ini sangat menjanjikan. "Penggunaan kulit yang berasal dari sel punca embrionik bisa dicangkokkan pada pasien luka bakar dengan tingkat penolakan yang kecil," katanya.


Selain proses penyembuhannya lebih cepat, sel punca juga terbukti mengurangi nyeri dengan cepat. Para peneliti kini tengah bersiap melakukan ujicoba pada manusia. Bila berhasil, terapi ini akan menolong banyak korban luka bakar dari risiko infeksi dan kematian.